Ciputra Quantum Leap – Bab 3 (bagian 1 dari 2)

Bab III: KEHIDUPAN DENGAN DAN TANPA KECAKAPAN ENTREPRENEURSHIP

Saya Tidak Pernah Melamar Kerja

Beberapa tahun yang lalu istri saya Dian Sumeler secara tidak sengaja menemukan ijazah perguruan tinggi yang saya peroleh pada tahun 1960 dari ITB Bangdung. Itu menyadarkan saya bahwa saya tidak pernah menggunakan lembar ijazah itu untuk mencari kerja yang memang tidak saya perlukan. Bukan berarti ITB tempat saya belajar menjadi arsitek tidak memberikan sesuatu yang berharga untuk hidup saya. Hal paling berharga yang saya peroleh dari ITB bukan selembar ijazah itu namun ilmu kreativitas bidang arsitektur yang melengkapi kecakapan entrepreneurship saya sehingga saya bisa jadi pengembang di Indonesia dan di berbagai Negara lain. Inilah kombinasi teknologi dengan entrepreneurship yang kemudian melahirkan seorang technopreneur. 

Kecakapan entrepreneurship sudah membantu saya sejak tingkat dua ITB karena memasuki tingkat dua di ITB saya tidak memperoleh dukungan uang dari ibu saya lagi. Tidak ada jalan lain untuk saya selain harus bisa mendapatkan uang sendiri untuk melanjutkan kehidupan saya di ITB Bandung. Selama masa kuliah tersebut saya pernah berdagang batik. Saya mencari batik di Bandung lalu menjualnya ke Medan. Saya juga pernah berjualan furniture, saya merancang gambarnya dan kemudian membayar tukang mebel untuk membuatnya. 

Di tingkat empat masa perkuliahan, bersama rekan Ismail Sofyan dan rekan Budi Brasali (alm), dua teman kuliah saya di ITB yang memiliki integritas hebat, kami mendirikan sebuah perusahaan konsultan, bernama Daya Cipta dan sampai sekarang masih beroperasi dengan nama PT Perentjana Djaja. Untuk menjaga biduk perusahaan berjalan lancer sekaligus tugas perkuliahan terselesaikan dengan baik maka kerja keras dan pengelolaan diri yang sangat ketat harus saya lakukan. Kecakapan entrepreneurship yang saya miliki membuat saya bukan seorang pencari kerja. 

Bayangkanlah bila setiap tahunnya lembaga pendidikan kita dapat menghasilkan ratusan ribu lulusan dengan kecakapan entrepreneurship. Pihak yang diuntungkan bukan hanya lulusan itu sendiri. Pihak bank dan lembaga keuangan dapat menyalurkan kredit usaha kecil kepada mereka, masyarakat mendapatkan solusi produk atau jasa, ada lapangan pekerjaan baru yang terbuka, ada kutipan pajak yang baru dan tentunya akan terdapat suasana social yang lebih baik karena pengangguran menjadi barang langka. 

Apa yang terjadi sekarang justru kebalikannya. Oleh karena sedikit sekali jumlah penduduk yang memiliki kecakapan entrepreneurship maka lapangan pekerjaan menjadi barang langka. Pengangguran dan kesusahan tampak di mana-mana.

Selembar Ijazah Tanpa Kecakapan Entrepreneurship: Siapkan Diri Antre Pekerjaan

Sangat menyedihkan melihat generasi muda lulusan perguruan tinggi yang menaruh harapan utama masa depannya pada lembaran ijazah yang mereka miliki. Namun ternyata pekerjaan yang dicari tidak kunjung ditemukan. Saat ini pasokan tenaga kerja terdidik lulusan perguruan tinggi sudah tidak berimbang dengan peluang yang tersedia. Mari kita perhatikan beberapa fakta ini. 

1. Minat Menjadi PNS Tinggi, Peluangnya Sedikit

Situs Departemen Pendidikan Pemerintah DKI Jakarta pada tanggal 2 Juni 2006 memuat sebuah berita terkini tentang pelamar kerja yang ingin menjadi PNS Pemerintah DKI Jakarta. Dikatakan bahwa lowongan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di lingkungan Pemerintahan provinsi DKI Jakarta telah menarik perhatian puluhan ribu pencari kerja. Hingga ditutupnya waktu pendaftaran hari Sabtu (4/2), Badan Kepegawaian Daerah DKI Jakarta mencatat sebanyak 39.622 pelamar melayangkan surat lamaran kerja untuk 950 lowongan yang ditawarkan. Pernahkah kita bayangkan bagaimana nasib dari sekitar 38.500 pelamar yang tidak gagal seleksi menjadi PNS Pemerintah DKI Jakarta? 

2. Satu Lowongan Kerja diperebutkan 200 Pelamar

Pada hari Senin tanggal 22 Januari 2007 media massa nasional di Indonesia memberitakan, lebih dari 110.000 pelamar kerja bersaing mendapatkan 500 kesempatan kerja di Trans TV dan Trans7. Ini sebuah fakta riil tentang langkanya peluang kerja di Indonesia yang sangat menyakitkan. Sebuah lowongan kerja ternyata diperebutkan 200 pelamar. Banyaknya tenaga terdidik yang mencari kerja bukan fakta yang aneh karena pada tahun 2007 di Indonesia terdapat 740.206 lulusan perguruan tinggi yang menganggur.

Seandainya ibu Pertiwi adalah sosok yang bisa kita lihat maka pasti ia sedang meneteskan air mata menyaksikan kenyataan memilukan ini. Tak ayal, ini sebuah sinyal bahaya yang mengkhawatirkan tentang langkanya lapangan kerja di Indonesia.

3. Sarjana Nuklir Berjualan Es Krim

Harian Kompas pada tanggal 28 April 2007 menulis tentang nasib para karyawan korban pemutusan hubungan kerja (PHK). Kompas memilih judul dan juga foto dari “Sarjana Nuklir Berjualan Es Krim”. Ini kisah nyata dari seorang sarjana nuklir lulusan sebuah perguruan tinggi terkemuka. La bekerja di PT Dirgantara Indonesia sebagai Pemrogram dan Pendesain di bagian Engineering Research. Pada tahun 2003 ia terkena PHK bersama lebih kurang 6.550 karyawan lain. Pasca PHK ia berwirausaha untuk mempertahankan kelangsungan hidup dirinya dan keluarganya. La pernah beternak kelinci, ayam, dan itik. Pernah pula berjualan rokok dan keripik singkong namun kerja wirausaha serabutan tersebut gagal sehingga akhirnya ia berjualan es krim di sebuah pusat perbelanjaan di Jawa Barat. Teman-temannya, sesame korban PHK PT Dirgantara Indonesia ada yang mencoba membuka warung kecil, berjualan gorengan atau nasi goring. Bahkan, ada yang menjadi tukang parker dan tukang tambal ban. Namun yang paling memilukan adalah seorang mantan karyawan Quality Assurance PT Dirgantara Indonesia yang semula pekerjaannya sangat penting, yaitu memeriksa komponen pesawat sebelum dioperasikan, bekerja sebagai pemulung pasca PHK. 

Menjadi entrepreneur kerap menjadi jalan keluar yang paling terbuka dan paling sering dicari pada masa paska PHK namun saying banyak yang gagal. Seandainya 6.550 korban PHK ini sudah belajar tentang entrepreneurship ketika mereka di bangku sekolah saya piker mereka akan memiliki kehidupan lebih baik karena mampu meng-“entrepreneur”-kan kecakapan teknis mereka.

4.Menjadi TKI karena Lowongan Pekerjaan Langka

Siapa yang bangga pergi begitu jauh hanya melakukan pekerjaan yang dihindari dan dianggap rendah oleh penduduk Negara tersebut? Pekerjaan ini pasti bukan pilihan pertama adik-adik atau anak-anak kita. Risiko dan biaya social yang harus dikeluarkan untuk menjadi TKI sangat tinggi. Menurut Direktur Eksekutif Migrant CARE sampai dengan Agustus 2007 sudah 121 orang TKI meninggal di tempat pekerjaan mereka. Salah satu korban adalah Sumarmi (22 tahun) meninggal tanggal 25 Agustus 2007 di rumah majikannya di Malaysia. 

Dalam artikel berjudul, “Bekerja di Jepang: Kisah Pilu TKI”, ada kalimat begini, sekitar 400-an warga Indonesia ada di penjara Jepang. Masih banyak cerita tentang penderitaan dan kepedihan hidup mereka. Kendat sulit, dianggap rendah, dan penuh risiko, pada kenyataannya menurut Migrant CARE sampai tahun 2006 terdapat 6,9 juta orang Indonesia memutuskan menjadi TKI. Kita sadari bersama bahwa TKI telah menyumbangkan devisa sedikitnya US $6,5 miliar atau Rp 61,7 triliun per tahun. Ini lebih besar dari ekspor minyak kelapa sawit, mebel, dan kerajinan Indonesia. Akan tetapi, akankah kita dengan gembira memperbesar terus jumlah TKI kita? Membuka lebih banyak peluang kerja untuk mereka di Tanah Air sendiri merupakan jalan keluar yang sangat berarti untuk masa depan mereka, bukan mengirim mereka ke luar negeri.

Saya dan para rekan entrepreneur lainnya mewakili sekelompok masyarakat yang memasuki dunia kerja dengan kecakapan mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas. Kami tidak perlu menjadi pencari kerja, kami memiliki kesanggup0an untuk menciptkan pekerjaan bagi diri sendiri bahkan kami bangga bisa menciptakan lapangan kerja bagi orang lain. Coba bayangkan apa yang akan terjadi dengan generasi muda di empat kasus tersebut bila mereka memiliki kecakapan menciptakan lapangan kerja bagi diri sendiri? Kasus-kasus tersebut tidak perlu terjadi, bukan?Sebaliknya, bayangkan juga saya sebagai seorang pemuda miskin dari sebuah desa di Pulau Sulawesi yang memasuki masa depan tanpa bekal kecakapan seorang entrepreneur sejati yang mampu mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas? Saya piker nasib saya tidak akan banyak berubah dari titik berangkat hidup saya, yaitu sekitar garis kemiskinan itu saja.

Penganggur Terdidik Makin Besar Jumlahnya di Indonesia

Setiap tahun perguruan tinggi di Indonesia menghasilkan lebih dari 300.000lulusan, sebagai contoh tahun 2005/2006 terdapat 323.902 lulusan Perguruan Tinggi. Namun daya serap lapangan kerja untuk mereka terlalu sedikit, sehingga pada bulan Februari 2007, terdapat lebih dari 740.000 lulusan perguruan tinggi yang menganggur. Hal yang sangat mencemaskan ialah angka ini cenderung naik pesat dari waktu ke waktu. Dalam waktu enam bulan, dari Agustus 2006 hingga Februari 2007, penganggur terdidik naik sebesar 66.578 orang (9,88 persen), artinya dalam setahun bisa mencapai 20 persen. Lebih menyedihkan lagi bila kita mengikutkan kelompok penganggur terdidik yang setengah menganggur. Pada bulan Februari 2007 sudah terdapat 1,4 juta, atau naik sekitar 26 persen dibandingkan Februari 2006. Akankah masalah berat ini kita biarkan terus bertumbuh? 

Lingkaran Setan: Pengangguran-Kemiskinan-Bencana

Pengangguran akan bermuara ke kemiskinan dan kemiskinan dapat melahirkan begitu banyak masalah social hingga pada bencana nasional. Bukan hal sulit untuk menemukan kaitan antara terorisme dengan kemiskinan. Atau masalah imigran gelap dengan kemiskinan. Atau masalah imigran gelap dengan kemiskinan, women trafficking dengan kemiskinan. Pelacuran anak dengan kemiskinan. Persoalan global warming juga dengan kemiskinan. Soal banjir dengan kemiskinan, dan sebagainya. Oleh karena itu, bila tidak ada formula riil terhadap masalah pengangguran dan kemiskinan kita telah membuka pintu terhadap masalah-masalah tersebut. 

Sebagai contoh, dalam sebuah tulisan berjudul “ World Bank Weighs In on Youth Unemployment” oleh Jonathan Adabre, dilaporkan bahwa meroketnya pengangguran di usia muda, meningkatkan api konflik di Negara-negara tertentu. Sebagai contoh di Liberia, Sierra Leone, dan Cote d’ivoire para pemberontak merekrut para penganggur ini masuk dalam kelompok mereka. 

Jumlah Entrepreneur di Indonesia Terlalu Sedikit 

Pada salah satu bagian pemikirannya, David McClelland berpendapat, suatu negara akan menjadi makmur apabila mempunyai entrepreneur sedikitnya sebanyak dua persen dari jumlah penduduk. Singapura, menurut laporan Global Entrepreneurship Monitor (GEM) tahun 2005, memiliki entrepreneur sebanyak 7,2 persen dari total penduduk. Padahal, pada tahun 2001 hanya tercatat sebesar 2,1 persen. Jumlah ini menarik dibandingkan dengan Amerika Serikat, lokomotif ekonomi selama satu abad terakhir ini. Pada tahun 1983, penduduk Amerika Serikat yang berjumlah 280 juta sudah memiliki enam juta entrepreneur, atau 2,14 persen dari total penduduknya. Di Indonesia diperkirakan hanya 400.000 orang yang tercatat menjadi pelaku usaha yang Mandiri, atau sekitar 0,18 persen dari populasi. 

Dengan jumlah pendukduk sebesar 220 juta, Indonesia membutuhkan 4,4 juta entrepreneur. Lesther Thurow menyebut betapa penting arti entrepreneur. La mengatakan, “ There are no institutional substitute for individuals entrepreneurial change agents. The entrepreneur winners of the game become wealthy and powerful, but without entrepreneurs, economies become poor and weak. The old will not exit; the new cannot enter.” 

Jadikan Kemiskinan sebagai Masa Lalu 

Sangat ironis melihat fakta terdapat negara-negara dengan kekayaan alam dan budaya yang melimpah namun ternyata di sana terdapat pengangguran dan kemiskinan yang melimpah ruah juga. Sudah jelas-jelas memiliki kekayaan alam, artinya tidak perlu berangkat dari modal “kotoran” dan “rongsokan”, seharusnya lebih dari emas yang didapat. Kenyataannya, pengangguran dan kemiskinan ada di mana-mana. 

Di sisi lain, nah di sini menariknya masalah ini, kita menemukan negara-negara miskin kekayaan alam namun mampu menonjol sebagai negara kaya. Ini bukti bahwa manfaat ekonomis yang terbesar bukan berpihak kepada siapa yang memiliki kekayaan alam tapi berpihak kepada mereka yang mampu “menaklukkan” pasar dengan kecakapan entrepreneurship. Sekarang, bagaimana caranya keluar dari lingkaran setan ini? Nasihat dari Caroline Jenner dalam The Next Generation Survery perlu kita simak baik-baik: “We cannot give them jobs, but we can ensure that they have the core skills and competences to create them.” Di sinilah peran sekolah dan perguruan tinggi menjadi sangat penting. 

Entrepreneurship Mengubah Kekayaan Alam dan Budaya Menjadi Kesejahteraan Bangsa 

Pada tanggal 12 Agustus 2007 tahun yang lalu saya mendapat kehormatan diangkat sebagai Tetua Suku Asmat Pemimpin Sumber Kemakmuran oleh Bupati Asmat, Bapak Yuvensius A. Biakay. Upacara pengangkatan itu sendiri dilakukan di pantai Taman Impian Jaya Ancol. Bersamaan dengan acara tersebut dilakukan pameran patung dan lukisan oleh para seniman Asmat, pertunjukan tari Asmat serta demonstrasi mendayung perahu-perahu Asmat yang ramping dan unik, yang ternyata bisa menjelajah pantai Ancol. Saya sungguh sangat terkesan akan keindahan dan keaslian seni budaya Asmat. Karya seni budaya seperti ini pantas untuk dipromosikan ke seluruh Indonesia dan seluruh dunia. 

Saya adalah pencinta seni budaya dan sekaligus kolektor lukisan. Saya cukup paham karya seni seperti apa yang memiliki kualitas dan nilai pasar yang tinggi. Saya ingin menyatakan dengan jujur bahwa karya seni Asmat memiliki potensi masuk ke kancah dunia. Saya berkata di dalam hati, apa yang saksikan ini barulah sebuah karya seni budaya dari sebuah kabupaten di tanah air kita. Kita memiliki masyarakat yang beragam tersebar di lebih dari 17.000 pulau, lebih dari 1.000 suku bangsa yang masing-masing memiliki bahasa dan keunikan tersendiri. Sungguh betapa kayanya Indonesia. Keragaman yang kita miliki adalah anugerah Tuhan dan aset yang sangat mahal. Saya berkeyakinan melalui pendidikan dan pelatihan entrepreneurship karya seni budaya serta kearifan lokal yang sangat banyak dan beragam di Indonesia dapat menjadi produk yang mampu menyejahterakan para pelakunya beserta masyarakat sekitarnya. 

Sebagai contoh adalah lukisan-lukisan karya pelukis dari China yang sekarang mulai merambah makin banyak galeri dan lelang lukisan kelas dunia. Harga lukisan mereka bisa mencapai 10 kali harga dari lukisan karya pelukis Indonesia. Tidak heran bila industri kreatif di China bertumbuh dan para senimannya makin sejahtera. Kenyataan ini bukan berarti karya seni para pelukis Indonesia tertinggal jauh dari China. Kita memiliki banyak pelukis yang berbakat, namun yang menjadi masalah utama adalah masih kurangnya pemahaman entrepreneurship di antara para seniman kita. 

Pada tanggal 8 September 2008 yang lalu untuk pertama kalinya saya berkunjung ke Palangkaraya untuk berbicara di Universitas Palangkaraya dan di Semiloka Pendidikan yang diseleng-garakan oleh AYUB (Asosiasi Yayasan Untuk Bangsa). Selama di Palangkaraya saya terkesan oleh empat hal. Pertama oleh keramahtamahan sambutan Gubernur Kalimantan Tengah Bapak Teras Narang. Bapak Teras Narang menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap pengembangan pendidikan entrepreneurship di Kalimantan Tengah. Kedua oleh lezatnya makanan ala Kalimantan Tengah, masakan ikan yang ditangkap dari sungai Kalimantan Tengah jarang saya temukan di tempat lain. Ketiga oleh keindahan seni ukir Dayak yang saya lihat di ruang pertemuan kantor Gubernur dan gerbang Universitas Palangkaraya. Keempat oleh kekayaan hutan tropis beserta keragaman hayati yang dimiliki oleh Kalimantan Tengah. Saya berpikir tempat di mana lagi di dunia yang hijau berhutan-hutan, memiliki sungai yang besar, memiliki beragam spesies langka flora dan fauna mencakup mamalia, kupu-kupu, reptile, burung, unggas, dan banyak lagi. Barangkali masih ada di beberapa tempat lain “surga” keragaman hayati seperti Kalimantan Tengah, namun pasti jumlahnya tidak banyak. Indonesia memang mendapat anugerah Tuhan menjadi tuan rumah bagi begitu banyak ciptaan Tuhan yang indah. Bayangkan di bumi nusantara kita terdapat sekitar 47,000 spesies tumbuhan atau sekitar 12 persen dari seluruh spesies tumbuhan di dunia. 

Dengan segala keunikan dan kekayaan alam dan sumber daya manusia yang dimilikinya dapatkah Kalimantan Tengah menjadi tujuan wisata dunia? Saya merasa yakin hal tersebut dapat terjadi bila semakin banyak rakyat Kalimantan Tengah yang memiliki jiwa, semangat dan kecakapan entrepreneurship.

Bersambung

Sumber 1 dan Sumber 2

Advertisements