Surabaya Masuk 10 Besar Koneksi Internet Paling Lemot di Dunia

suarasurabaya.net| Kota Surabaya menempati ranking 10 koneksi internet terlambat di dunia. Ini berdasarkan survey yang dilakukan oleh Pando Networks, sebuah lembaga survey internet internasional. Dalam rilis yang dikeluarkan kemarin, mengutip AFP, kecepatan rata-rata akses internet di Kota Surabaya hanya 72 KBps.

Posisi Kota Surabaya ini lebih buruk dibandingkan Kota Palembang yang dalam survey itu menempati ranking 11 dengan rata-rata kecepatan akses 73 KBps. Dalam rilis itu tidak disebut kota-kota lain di Indonesia yang disurvey, termasuk Ibukota Jakarta.

Survey itu juga menyebut sejumlah negara yang disebut memiliki akses internet lambat, diantaranya adalah Aljazair, Brazil, Bolivia, dan Venezuela. Negara yang paling buruk akses internetnya adalah Republik Demokratik Kongo dengan kecepatan rata-rata akses hanya 13 KBps. Posisi selanjutnya, Republik Afrika Tengah dengan kecepatan rata-rata akses 14 KBps, dan Komoro dengan kecepatan rata-rata akses 23 KBps.

Pada survey ini disebutkan Korea Selatan sebagai negara yang punya kecepatan rata-rata akses internet tertinggi, (2.202 KBps). Diikuti Rumania (1.909 KBps), Bulgaria (1.611 KBps), Lithuania (1.462 KBps), Latvia (1.377 KBps), Jepang (1.364 KBps), Swedia (1.234 KBps), Ukraina (1.190 KBps), Denmark (1.020 KBps), dan Hong Kong (992 KBps).

Yang mengejutkan, Amerika Serikat hanya berada di peringkat ke-26 akses internet tercepat dengan kecepatan rata-rata akses 606 KBps. Negeri tetangga, Singapura berkecepatan rata-rata akses 335 KBps.

Robert Levitan Chief Executive Pando Network mengatakan survey ini dilakukan pada 27 juta pengunduhan file di internet dari 20 juta computer di 224 negara selama Januari hingga Juni 2011.

Moh. Noor Al Azam pengurus Korwil Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Jatim dalam e-mail yang dikirimkan ke suarasurabaya.net mengatakan kecepatan rata-rata internet 72 kBps di Surabaya tergolong cukup besar. Ini setara 658 kbps. “Bayangkan kalau kita dapat kecepatan seperti itu di rumah kita,” kata alumnus ITS Surabaya ini.

”Dari penelitian ini, terungkap fakta bahwa ternyata kecepatan akses internet yang kita terima masih jauh di bawah yang disampaikan pada penelitian ini….😦,” tulisnya.

Menurut Azam, dilihat cara surveyor meranking yang berdasarkan 27 juta download dari 20 juta komputer, terlihat bahwa penelitian ini diambil dari record log server-server di dunia. “Jadi tidak heran ada disparitas yang sangat tajam pada log tersebut dan hasil rata-ratanya kita mendownload sebesar 576 kbps. Meskipun kalau kita sebutkan angka itu di masyarakat, pasti banyak yang protes. Kapan juga kita pernah mendapatkan throughput download sebesar itu?” kata dia.

Yang menarik untuk dikaji dari hasil survey ini, kata Azam adalah, kenapa disparitas itu sangat tajam. “Kenapa masyarakat jarang mendapat kesempatan download dengan 576 kbps seperti tercatat pada survey?” ujar dia mengkritisi.

Diantara jawaban yang paling dekat dengan kebenaran adalah jaringan lokal yang belum memenuhi kebutuhan yang ada.

”Buktinya, kalau penelitian itu menyatakan rata-rata download kita sebesar 576 kbps, sementara yang kita terima throughput hanya 128 kbps atau 256 kbps atau bahkan lebih rendah lagi,” kata dia.

Lebih jauh, lelaki yang kini aktif di komunitas Android ini mengatakan kesenjangan kecepatan rata-rata akses internet dari hasil survey dan kenyataan di Surabaya itu karena adanya pihak tertentu (orang atau mesin) yang mendapatkan throughput download jauh lebih besar dari 128 kbps atau 256 kbps. “Biasanya ini berada di simpul jaringan yang sangat dekat dengan backbone,” kata dia.

Masalah lain yang mempengaruhi kecepatan akses internet adalah seberapa besar jaringan yang membawa traffic internet itu dari backbone sampai ke komputer kita di rumah, juga berapa sharing yang dilakukan, dan berapa tambahan delay yang terjadi

Kontribusi lain penyebab lambannya akses internet di Surabaya adalah tidak adanya gateway internasional di Surabaya. Akses internet end user di Surabaya terpaksa harus routing ke gateway di Jakarta dan masuk gateway internasional via Singapura.

Masalah ini bisa dipecahkan jika konten-konten laris macam Facebook dan Twitter misalnya, bisa menempatkan beberapa servernya di Indonesia mengingat Indonesia masuk pengguna terbesar 2 konten tersebut.(edy)

Sumber