Menyambangi Markas Opera di Oslo

Pintu masuk ke markas Opera di Oslo, Norwegia.

KOMPAS.com – Apa yang muncul dalam benak Anda ketika mendengar kata Opera? Salah satu yang mungkin terpikir adalah peramban web (browser) dengan ikon “O” warna merah yang akrab digunakan user untuk menjelajah internet, baik di ponsel, tablet, maupun desktop. Di mata netters, Opera bukanlah hal asing, tetapi faktanya, mungkin belum banyak yang tahu kalau browser ini berasal dari Norwegia. Opera adalah produk yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan piranti lunak bernama Opera Software ASA.

Opera Software bermarkas di Kota Oslo. Awalnya, Opera dirintis dari suatu proyek penelitian tahun 1994 pada perusahaan telekomunikasi milik Norwegia, Telenor. Selang setahun kemudian, proyek ini berkembang secara mandiri menjadi sebuah perusahaan bernama Opera Software ASA. Dari semula hanya dikelola sekitar tujuh orang, Opera Software kini telah berkembang pesat menjadi sebuah perusahaan internasional yang mempekerjakan sekitar 700 karyawan berasal dari puluhan negara termasuk dari Indonesia.

Beberapa hari lalu, bersama puluhan wartawan lain dari beberapa negara, Kompas.com mendapat kesempatan menyambangi kantor pusat (headquarter) Opera di Oslo. Kunjungan ini merupakan salah satu agenda di sela-sela penyelenggaraan Up North Web 2011, suatu event akbar tahunan yang digelar Opera untuk memperkenalkan perkembangan browser mereka dan tren di masa depan.

Terletak tak jauh dari jantung kota Oslo, markas Opera yang sudah berumur belasan tahun tampak modern tetapi sederhana. Tak ada kesan mewah atau pun berlebihan pada kantor yang dipimpin oleh Chief Excecutive Officer (CEO) Lars Boilesen itu. Simpel, fleksibel tetapi fungsional, mungkin itulah ungkapan yang paling cocok untuk menggambarkan bangunan yang menjadi bagian penting perjalanan Opera selama ini.

Beralamat resmi di Jalan Waldemar Thranes Gate 98, markas Opera Software terletak di suatu gedung bertingkat lima di dekat sungat Akerselva. Tak ada yang mencolok dari markas Opera karena memang hampir mirip dengan bangunan-bangunan di sekitarnya. Tetapi di sini, ada banyak hal tak terduga yang mungkin bisa ditemukan. Misalnya, gerbang masuk ke kantor Opera ternyata hanyalah sebuah pintu kaca kecil berwarna merah bertuliskan logo Opera Software. Pintu ini merupakan akses utama masuk ke gedung, di mana Opera hanya menempati dua dari lima lantai, yakni lantai 2 dan 4.

Untuk sampai ke kantor Opera, rombongan harus menaiki tangga memutar dan melewati sebuah gang kecil. Tak tersedia lift bagi karyawan atau tamu untuk mengunjungi kantor ini. Benar-benar sederhana bukan?

Rombongan wartawan termasuk di antaranya Kompas.com dan Majalah Infokomputer disambut hangat di resepsionis dengan suguhan kopi dan makanan kecil. Lalu kami dipandu oleh salah satu staff Opera, Zara Lauder, berkeliling ke beberapa sudut kantor.

Rombongan lalu secara singkat menelusuri ruangan demi ruangan, mulai dari ruang kerja para pejabat dan karyawan, kantin, perpustakaan, ruang pertemuan, ruang rekreasi, ruang fitness, hingga tempat penitipan anak. Setiap lantai di gedung markas Opera terhubung oleh tangga, dengan pintu-pintu dan jalan yang sempit tanpa petunjuk arah yang jelas. Masuk ke markas Opera ibarat menyusuri sebuah labirin yang bisa membuat setiap orang tersesat.

Sebagian besar ruangan kerja di markas Opera memang berukuran kecil, didesain minimalis tetapi fungsional. Pada beberapa ruangan, dominasi warna merah khas Opera tampak kental. Selain menyediakan fasilitas lengkap, sistem kerja yang cukup fleksibel membuat para karyawan menjadi lebih nyaman bekerja.

Zara menuturkan, karyawan yang berkantor di gedung pusat Opera di Oslo hanya sekitar 400 orang dan sebagian besar adalah orang Norwegia. Sedangkan sisanya tersebar di beberapa satelit office di beberapa kota yakni di Linkoping, Goteborg, Stockholm (Swedia), Tokyo, Beijing, Seoul, Melbourne (Australia) San Mateo (AS), St Petersburg (Afsel), Wroclaw, Warsawa (Polandia), Taipei, Chandigargh (India) dan Reykjavik (Islandia).

Dengan karyawan yang berasal dari hampir seluruh penjuru dunia, keberagaman budaya dan tradisi dari seluruh dunia dapat menyatu di markas Opera. Hubungan antar karyawan juga selalu dieratkan melalui beberapa kegiatan perusahaan, seperti misalnya aktivitas memasak oleh karyawan dari negara tertentu untuk kemudian dinikmati oleh ratusan karyawan lainnya.

Yang pasti, keragaman kultur yang diciptakan oleh Opera di markasnya memang unik. Inilah upaya yang mereka lakukan untuk memahami kebutuhan user di seluruh dunia. Bagi opera, setiap pribadi memang sangat unik. Oleh karena itulah, mereka selalu berupaya menciptakan browser dengan fitur-fitur yang dapat disesuaikan (personalize) dengan kebutuhan setiap orang.

Sumber