Belajar Sukses Dari Sunan Drajat, Beri Makan Orang Lapar


LAMONGAN (Berita SuaraMedia) – Di pinggir jalan Paciran-Sukodadi, Desa Banjaranyar, Paciran, Lamongan, sebuah mesin penghalus batu kapur menderu-deru membisingkan telinga. Tampak sejumlah buruh memasukkan butiran batu kapur yang sudah halus ke kantong plastik.

Berton-ton tepung dolomite dan fosfat tiap hari dihasilkan dari salah satu unit usaha Pondok Pesantren Sunan Drajat. “Tiap hari kami bisa memproduksi 300 ton pupuk dolomite,” kata Abdul Ghofur, pemimpin Pesantren Sunan Drajat.
Selain memproduksi pupuk dolomite, Ghofur juga membuat pupuk organik dari fosfat, kalium fosfat, dan NPK (nitrate, phosphate, kalium). Bisnis pupuk dimulai pada 2004 sebagai pengembangan usaha koperasi Pondok Pesantren Sunan Drajat yang telah dirintis pada 1992.

Waktu itu Ghofur melihat banyaknya sumber mineral di Banjaranyar tapi kurang dimanfaatkan secara maksimal. “Hanya dijual untuk menguruk jalan,” katanya. Padahal desa yang berada di tepi pantai utara Jawa Timur ini menghasilkan batu mineral dalam jumlah besar.

Setelah melakukan penelitian, Ghofur mengetahui bahwa batu kapur itu mengandung dolomite dan fosfat yang bisa dipakai untuk pupuk. Bahkan bubuk dolomite juga berguna untuk campuran baja dan bahan kosmetik. Biasanya, satu truk batu kapur dijual Rp 15 ribu. “Tapi, jika untuk kosmetik, bisa laku Rp 15 juta,” katanya.

Melihat peluang pasar yang luas itu, ia memperluas lahan pertambangannya di Desa Banjaranyar menjadi 60 hektare pada 2004. Selain itu, lahan tersebut juga dikembangkan menjadi pusat pelatihan dan industri agribisnis. Di sana ada perikanan lele, peternakan domba, dan penggemukan sapi. Kini pesantren itu punya 200 domba. Pesantren ini juga bisa menjual 4 kuintal lele sekali panen.

Abdul Ghofur pada 2003 juga mengembangkan mengkudu. Bekerjasama dengan petani setempat, ia berhasil mendorong petani menanam 10 ribu pohon mengkudu di pekarangan rumahnya. Sebagian hasil petani itu dijual ke pesantren untuk dibuat jus mengkudu dengan merek Sunan.

Selain di Paciran, tanaman mengkudu juga digalakkan Pondok Pesantren Al-Hidayah di Desa Brumbun, Kecamatan Ngimbang. Pesantren binaan Abdul Ghofur yang terletak di sekitar hutan jati itu telah menanam 15 ribu pohon mengkudu di lahan petani binaan Al-Hidayah. “Selain menyediakan bibit, kami yang membeli buahnya,” kata Ali Mashadi, pemimpin Pesantren Al-Hidayah.

Kini setidaknya setiap bulan petani di Brumbun bisa memperoleh tambahan Rp 160 ribu dari penjualan buah mengkudu kering. Jumlah itu tak seberapa bagi orang berduit tetapi bermakna bagi petani kecil seperti mereka.

Yang dilakukan Abdul Ghofur dengan mengembangkan berbagai usaha itu mengikuti ajaran Sunan Drajat, salah satu Wali Songo. Ada empat prinsip hidup dari Sunan Drajat yang harus dijalani para santri Abdul Ghofur. Salah satunya adalah berilah makan orang lapar.

Prinsip itulah yang dikembangkan Abdul Ghofur ketika pada 1980-an dirinya menerima tongkat estafet dari ayahnya, KH Mahtuchan. Selain dibekali ilmu agama, santri Pondok Pesantren Sunan Drajat juga diajari berbagai keterampilan. “Santri harus mandiri dan tidak meminta-minta,” kata Abdul Ghofur.

Dalam tiga dasawarsa, Pondok Pesantren Sunan Drajat telah memiliki 8.000 santri dan aset bisnisnya berkembang biak ke sejumlah bidang. Selain masih menggeluti bisnis empat restoran di Malaysia-dengan pemasukan Rp 60 juta per bulan-tiga tahun lalu Abdul Ghofur juga mendirikan radio Persada FM di Paciran.

Tahun depan, bekerja sama dengan pengusaha ikan dari Surabaya, Abdul Ghofur akan mendirikan pabrik pengolahan ikan di Paciran. “Kami akan memasok ikannya,” katanya. Sayang, ia tak punya cukup tenaga profesional. Akibatnya, sebagian bisnisnya kurang fokus dan belum menguntungkan, salah satunya Persada FM.

Namun, kata Abdul Ghofur, tak semua usaha yang dikelola semata untuk tujuan bisnis. “Yang penting memberikan pekerjaan pada orang,” katanya. Setidaknya, kini ada 700 santri yang bergantung hidupnya pada pondok pesantren. Setiap bulan, katanya, ada saja yang datang minta pekerjaan. 

Sumber

Advertisements