Inggris Paling Getol “Bersih-bersih” di Google

LONDON, KOMPAS.com – Beberapa negara rupanya meminta perusahaan mesin pencarian raksasa yaitu Google menghapus beberapa konten yang dianggap membahayakan negara. Negara mana sajakah yang paling sering menginginkan beberapa konten dihilangkan dari pencarian melalui Google?

Rupanya, Pemerintah Inggris tidak terlalu menyukai jika warganya menemukan hal-hal tertentu di internet. Tahun lalu, Inggris menempati posisi teratas permintaan penghapusan konten yaitu sebanyak 93.518 konten dengan persentase permintaan penghapusan penuh mencapai 89 persen. Namun hanya sebesar 38 konten yang berhasil dihilangkan. Dari angka yang disodorkan, sangat jelas, Inggris paling banyak memiliki konten yang berbenturan dengan hukum-hukum lokal.

Posisi kedua ditempati oleh Korea Selatan dengan jumlah konten yang harus dihapus mencapai 32.152. Negara pengembang teknologi ini meminta penghapusan sepenuhnya atau tingkat kepatuhan hingga 100 persen. Namun, hanya 139 konten yang telah dihapus. Permintaan penghapusan oleh Korea Selatan disinyalir merupakan konten yang paling berbahaya diketahui oleh publik.

Urutan ketiga adalah Brazil yaitu dengan permintaan penghapusan sekitar 12.363 konten dengan persentase penghapusan konten penuh mencapai 76 persen. 263 konten telah berhasil dimusnahkan.

Seperti perusahaan teknologi komunikasi lainnya, Google sangat sering menerima permintaan penghapusan konten. Permintaan tersebut datang dari instansi pemerintah maupun pengadilan federal di seluruh dunia.

Selain itu, Google juga diminta melakukan pemindahan konten dengan alasan pencemaran nama baik maupun melanggar hukum lokal yang melarang adanya pidato kebencian terhadap pemerintah maupun pornografi. Menurut management, permintaan ini beragam tergantung dengan wilayah geografis.

Beberapa negara lain yang tercatat sangat tinggi melakukan request penghapusan item ke Google adalah Argentina, Spanyol, Belanda, dan Thailand. Amerika Serikat (AS) membuat permintaan sebanyak 1.421 item agar dihapus dengan tingkat kepatuhan 87 persen.(Kontan/Dyah Megasari)

Sumber