Makanan Agar Otak Tetap Aktif dan Berbobot

Seiring usia, kemampuan daya ingat bisa menurun. Tunda dengan langkah sederhana berikut:

Tidur cukup
Kita perlu tidur sebanyak 7-8 jam sehari untuk menjaga kesehatan otak. Saat kita cukup beristirahat, otak mengumpulkan berbagai informasi yang masuk dan menyusunnya dengan benar. Sebaliknya, kurang tidur bisa mengganggu performa dan suasana hati.

Rekomendasi: lakukan meditasi
Meditasi dapat menghasilkan gelombang gama di otak. Gelombang ini diasosiasikan dengan perhatian, daya ingat, dan kemampuan belajar. Peneliti dari Emory University menemukan bahwa mereka yang rajin bermeditasi cenderung terhindar dari risiko kepikunan dan kerusakan otak.

Makan sebuah apel setiap hari
Apel mengandung antioksidan yang dapat meningkatkan kadar asetilkolina di otak. Selain itu, apel juga mengandung kuersetin, atau sejenis flavonoid yang berfungsi melindungi sel otak dari radikal bebas.

Rekomendasi: asup makanan mengandung omega-3
Omega-3 banyak terdapat pada ikan salmon, tuna, dan tongkol. Asam lemak ini bermanfaat untuk meningkatkan komunikasi antar sel saraf. Penelitian terbaru menyebutkan omega-3 dapat melindungi sel otak dari risiko Alzheimer.

Rajin berolahraga
Olahraga tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga otak. Ketika berolahraga, otak menghasilkan BDNF (brain-derived neurotrophic factor), sejenis protein yang berfungsi menguatkan neuron. Otak yang mengandung banyak BDNF mampu menampung informasi lebih banyak. Untuk meningkatkan kadar BDNF, latukan latihan aerobik secara rutin. Penelitian lain menyatakan berjalan kaki memberi manfaat yang sama.

Rekomendasi: tambah latihan dengan angkat beban
Penelitian terbaru menemukan bahwa olahraga yang ditujukan untuk pembentukan otot, seperti yoga dan angkat beban, dapat meningkatkan kadar senyawa kimia yang mempengaruhi pertumbuhan neuron.

Tidak terelakkan, memasuki usia 50 tahun banyak fungsi organ tubuh, termasuk otak, akan menurun. Namun, jangan khawatir, beranjak tua tidak berarti harus menjadi kakek atau nenek pikun. Dengan gaya hidup sehat, risiko kepikunan bisa dihalau.

Pikun adalah gangguan fungsi-fungsi memori (daya ingat), berbahasa, berpikir, dan berperilaku. Sebagian besar disebabkan oleh penyakit alzheimer. Tanda-tanda demensia alzheimer, antara lain, lupa akan kejadian yang baru dialami, kesulitan melakukan pekerjaan sehari-hari, kesulitan dalam berbahasa, disorientasi waktu dan tempat, serta tidak mampu membuat keputusan.

Untuk menjaga agar daya ingat tidak turun, para ilmuwan dari Inggris dan Finlandia menemukan bahwa tetap aktif sampai usia lanjut sangatlah penting. Berdasarkan penelitian mereka, diketahui bahwa orang-orang yang lebih lama menempuh pendidikan lebih mampu mengimbangi efek demensia pada otak.

Selama satu dekade terakhir studi mengenai demensia atau kepikunan secara konsisten menunjukkan, lebih lama kita menuntut ilmu, makin rendah risiko terkena demensia. Dalam studi terkini terhadap 872 orang yang mengikuti studi jangka panjang mengenai penuaan membuktikan hal tersebut.

Akan tetapi, memang belum jelas benar mengapa orang-orang “berpendidikan” itu lebih sedikit yang terkena pikun di masa tuanya. Apakah karena mereka lebih pandai mengatur gejala-gejalanya atau ada alasan lain?

Selain faktor pendidikan, para pakar selama ini menyarankan agar setiap orang yang beranjak lansia tetap aktif dan tidak menarik diri dari pergaulan. Bersosialisasi, membaca buku, bermain catur, dan belajar bahasa merupakan cara yang akan mengoptimalkan agar otak tak mudah pikun. (fn/k2m)

Sumber

Advertisements