Teknologi ini untuk membantu mengatasi kemacetan dan pelanggaran lalu-lintas

Oleh Dewi Mardiani

Berlalu-lintas di Jakarta? Ahhh … menyebalkan, macet di mana-mana, bikin stres. Hampir pasti, begitu jawaban yang dilontarkan kebanyakan orang ketika ditanya seputar lalu-lintas di Jakarta. Anda juga begitu?

Keluhan ini untungnya didengar oleh para peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Hasilnya, mereka pun merancang teknologi sistem informasi dan penegakan hukum (c-law enforcement) di jalan raya. Teknologi ini diterapkan untuk membantu mengatasi kemacetan lalu- lintas yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti padatnya kendaraan, banjir, demonstrasi, kecelakaan, dan lain-lain.Bagian yang terlibat dalam pengembangan teknologi ini adalah Pusat Teknologi Industri Sistem Transportasi (PTIST), Pusat Teknologi Sistem Informasi dan Komputasi (PTSIK), dan Balai Mesin Perkakas, Teknik Produksi, dan Otomasi (BMPTPO). Untuk sistem informasi di jalan raya, mereka merancang teknologi yang disebut Real Time Traffic Information System (RTTIS) dan untuk e-law enforcement akan dipasang perangkat kamera pintar.

Saat ini, kondisi lalu-lintas masih dipantau menggunakan kamera CCTV. Walau cukup lumayan, penggunaan CCTV dirasa kurang memadai. Kamera yang umumnya dipasang di titik-titik padat lalu-lintas ini memberi gambaran yang tidak detail mengenai kondisi arus lalu-lintas. Data yang dihasilkan masih berupa suara dan gambar, bukan data yang bisa diolah komputer. Padahal, data yang bisa diolah komputer dapat diterjemahkan dan dikirimkan ke berbagai media, termasuk untuk pengiriman ke internet, pesan singkat, atau gambar apa pun yang bisa diakses oleh para pengguna jalan melalui PC, notebook, bahkan telepon seluler.Selama ini, dengan bantuan CCTV, Polda Metro Jaya lewat Pusat Manajemen Lalu-Lintas (Traffic Management Centre/TMC) memantau dan menangani beragam masalah lalu-lintas, seperti kemacetan, kecelakaan, banjir, dan lain-lain.

Nah, untuk meningkatkan kemampuan TMC, BPPT mengembangkan teknologi penyampaian informasi kepada pengguna jalan raya, baik informasi secara sektoral maupun jaringan dengan RTTIS.

Teknologi RTTIS

Ini adalah teknologi yang memberikan informasi lalu-lintas kepada para pengguna jalan raya secara waktu nyata (saat itu juga). Teknologi ini merupakan gabungan dari penggunaan CCTV dan Geo Information System (GIS). Tujuannya adalah agar dapat memprediksi tingkat kemacetan pada setiap ruas jalan secara real time. Teknologi ini juga dapatmem-berikan rute terbaik untuk ditempuh pengguna jalan.Selain memberikan data seputar kondisi arus lalu-lintas, RTTIS juga dapat memberikan informasi mengenai kecelakaan, banjir, dan lain-lain yang terjadi di jalan raya.

Diharapkan, RTTIS dapat mengurangi tingkat kemacetan lalu-lintas di Jakartadan kota-kota besar lainnya di Indonesia.”Informasi dari kamera (CCTV) ditangkap antena lalu disampaikan ke TCM untuk diolah,” kata Kepala Bidang Teknologi Sistem Transportasi BPPT, Rusmayadi Suyuti. Teknologi ini, menurut Rusmayadi, sebenarnya bukan sama sekali baru. Hanya saja, teknologi ini kemudian dikembangkan oleh BPPT dengan mendesain teknologi lunak yang tepat untuk kondisi lalu-lintas saat ini dan ke depan, termasuk merancang perangkat lunak pendukung pengolahan data di TMC.

Data di TMC, menurut Kepala Bidang Sistem Informasi dan Komputasi BPPT Dwi Handoko, diolah sedemikian rupa hingga berwujud angka-angka yang bisa diterima komputer. Transfer data dari TMC ini tampil dalam beragam bentuk seperti pengumuman kondisi lalulintas di pintu tol, call center atau internet, bahkan pesan singkat.Teknologi ini digabungkan pula dengan GIS, juga remote sensing dan GPS (Geo Positioning System). “Ada pemrosesan analisis, sehingga GPS ini ditingkatkan kemampuannya,” kata Dwi.

Kamera pintar

Ini adalah perangkat utama pada teknologi e-law enforcement di jalan raya. Menurut Dwi, kamera ini menjadi satu kesatuan dengan RTTIS. Nantinya, kamera pintar yang dirancang dengan spesifikasi tinggi ini akan menggantikan CCTV. “Spesifikasi yang digunakan, misalkan kamera dengan kemampuan night vision, berkecepatan tinggi, dan lain-lain.”Sesuai namanya, yakni kamera pintar, kamera ini dilengkapi dengan sejumlah fitur pintar. Untuk itu, perlu dukungan dari kendaraan yang menjadi objek pengamatan dari kamera ini, semisal plat nomor berpendar, lokasi plat, dan bentuk plat nomor yang standar. “Sulitnya, sekarang ini platnya tidak standar. Masalah ini perlu ditegakkan agar teknologinya bisa tepat guna,” lanjut Dwi.

Tujuan digunakannya kamera pintar adalah untuk mendapatkan bukti-bukti pelanggaran, contohnya pelanggaran lampu merah. Untuk ini, peralatan dilengkapi sensor garis di jalan raya yang bisa mengaktifkan kamera untuk mengambil gambar dan mengatur posisi kamera secara tepat.Idealnya, dibutuhkan empat kamera di setiap perempatan jalan. Hanya saja demi penghematan, bisa saja dipasang dua unit. Sasaran gambar adalah plat nomor, lampu merah, dan situasi pelanggaran (waktu, tempat, dan lain-lain). Ke depan, teknologi ini akan digabungkan dengan yellow box (kotak kuning) di jalan raya. Kamera pintar akan dipasang di daerah itu untuk menangkap gambar pelanggar yellow box.

Yellow box itu merupakan daerah bersih {clearance area) di tengah perempatan jalan. Prinsipnya, tak boleh ada satu pun kendaraan berhenti di dalam kotak tersebut walaupun lampu lalu-lintas berwarna hijau. Tujuannya untuk menghindari terkuncinya jalur lalu-lintas di perempatan jalan. “Itu yang sering terjadi, yaitu kemacetan akibat jalinan kendaraan di perempatan jalan. Ini sudah diaplikasikan di perempatan Sarinah, Jakarta, namun belum memasyarakat.”Agaknya, perlu sosialisasi lebih banyak untuk menyebarluaskan teknologi di jalan raya ini. Dengan bantuan teknologi ini, siapa tahu lalu-lintas Jakarta menjadi lebih baik. “Teknologi ini bisa dikembangkan lagi bila memang Pemprov DKI Jakarta ingin menerapkan Electronic Road Pricing (ERP) seperti di Singapura untuk jalan tol.” xl wachidah.

Sumber

Advertisements