Bab II: Pengalaman Entrepreneurship Mengembangkan Proyek Real Estate Views :1639 Times
“The entrepreneur always searches for change, responds to it and exploits it as an opportunity.” — Peter Drucker
Sebagai seorang yang belajar entrepreneurship terus-menerus dari realitas nyata kehidupan, saya banyak menarik hikmah dan pengalaman langsung di lapangan. Saya pun belajar dari kekeliruan yang saya lakukan dan “pelajaran” dari orang lain. Saya bersyukur masih banyak hasil yang baik daripada yang buruk. Masih banyak yang sukses daripada yang buruk. Masih banyak yang sukses daripada yang gagal. Pengalaman-pengalaman nyata dalam ber-entrepreneur itu mengajarkan saya tentang tiga hal yang sangat penting dalam proses mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas, yaitu:
- Menciptakan peluang (opportunity creating). Bukan sekadar mencari peluang (opportunity seeking).
- Melakukan inovasi produk (innovation).
- Berani mengambil risiko yang terukur (calculated risk taking).
Contoh-contoh pengalaman konkret berikut ini akan menceritakan bagaimana ketiga hal tersebut menjiwai proses entrepreneurship yang saya lakukan
Ancol: Sebuah kisah “ Kotoran dan Rongsokan Menjadi Emas”
Kawasan Ancol adalah tempat peristirahatan Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada abad ke-17, Adriaan Valckenier. Kawasan ini masih popular sebagai tempat wisata pada masa penjajahan Jepang. Sesudah era itu, Ancol kumuh, berlumpur, dan berawa. Warga pun enggan dating ke sana. Bung Karno, Presiden RI yang pertama mempunyai cita rasa wisata yang tinggi. La menginginkan Ancol menjadi sebuah kawasan wisata andal. Berbekal visi ini pada tahun 1967, saya dalam kapasitas sebagai CEO PT Pembangunan Jaya mengajukan konsep pengembangan kawasan Ancol kepada Bang Ali, Gubernur DKI Jakarta saat itu. Bang Ali seorang government entrepreneur yang saya kagumi. La langsung menyetujui dan berpesan: “ Jadikan Ancol setaraf dengan Disneyland-nya Amerika.”
Disneyland yang Bang Ali pesankan sudah pasti adalah “emas” sedang yang ada di depan saya sungguh-sungguh kotoran dan rongsokan. Apa yang perlu saya lakukan untuk mengubahnya?
Pertama, menggunakan imajinasi kreatif untuk melihat sebuah permasalahan dengan kacamata seorang entrepreneur. Di tempat kumuh itu saya membayangkan sesuatu yang serba kreatif. Saya tidak terpaku pada hambatan, kelemahan, dan kekurangan yang ada. Focus saya pada potensi dan peluang yang dapat saya raih. Inilah yang saya sebut sebagai proses menciptakan peluang (opportunity creating).
Kedua, saya berinovasi. Formulanya creative cross subsidy. Sebagian area Ancol dijual untuk membangun pusat profit. Di bagian yang lain tetap menjadi milik kami. Di lokasi lain, masih di Ancol, kami bangun dan kemudian sewakan agar meraih modal untuk membangun sarana rekreasi yang membutuhkan investasi jangka panjang. Saya ingin tekankan di sini, kreativitas bukan hanya diperlukan dalam rancang bangun semata. Bagi seorang entrepreneur, kreativitas masuk menjelajah ke ranah keuangan.
Ketiga, berani mengambil risiko terukur. Ini langkah yang saya ambil setelah penciptaan peluang dan inovasi. Saya mengambil kredit dari bank dan ternyata bank bukan saja meminta kolateral namun meminta jaminan pribadi saya. Sebagai seorang entrepreneur risiko ini saya ambil karena saya memiliki keyakinan akan keberhasilan Ancol.
Hasilnya, saat ini Ancol menjadi kawasan wisata yang masuk dalam lima besar kawasan wisata terbesar di dunia. Dengan jumlah pengunjung 13 juta orang maka Ancol hanya kalah oleh Disneyland an Disney World. Padahal investasi kawasan wisata seperti Disney berlipat-lipat kali lebih besar dari pada investasi Ancol.
Bukan hanya itu, Pemerintah DKI Jakarta sebagai pemegang 72 persen saham sudah memetik buahnya. PT Pembangunan Jaya Ancol yang merupakan perusahaan milik daerah, patungan dengan Pembangunan Jaya, mendapatkan laba bersih (sesudah pajak) lebih dari RP 144 miliar (2007). Perusahaan ini telah menjadi perusahaan public, menjadi BUMD pertama yang go public menjadi BUMD Tbk. Dan dianggap paling berhasil di pasar modal. Ancol bahkan menjadi salah satu contributor terpenting bagi pendapatan asli daerah (PAD) DKI Jakarta dan kontribusi pajak yang besar kepada Pemerintah Pusat.
Ciputra Hanoi Internasional City
Saya mulai mengamati Vietnam sejak awal tahun 1990-an. Melalui Grup Metropolitan saya memutuskan masuk ke Vietnam, bukan ke China. Ini didasari anggapan bahwa walaupun China semakin berkembang namun harga tanah di China sudah mahal. Di sisi lain, Vietnam adalah tetangga China, dan sebagai Negara yang bertetangga, Vietnam berprospek besar.
Pada pertengahan tahun 1990-an, bekerja sama dengan sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Vietnam kami membangun hotel Hanoi Horison Hotel di kota Hanoi: berbintang lima, berkapasitas 350 kamar.
Proyek berikutnya adalah Ciputra Hanoi International City. Ini kota baru seluas 310 ha yang merupakan kota satelit kelas dunia, bertetangga dengan Hanoi CBD, sekitar 20 menit dari Nobai Airport dan hanya 10-15 menit dari pusat kota Hanoi. Inspirasi proyek ini saya dapatkan karena beberapa kali melalui kawasan tersebut dalam perjalanan dari dan ke bandara.
Saya belajar dari pengalaman mengembangkan Pondok Indah sebagai kota untuk masyarakat internasional, karena itu saya memahami prospek kehadiran bandara internasional. Salah satu proyek kami di Jakarta, yaitu Perumahan Citra, tidak jauh letaknya dari bandara Soekarno-Hatta. Imajinasi kreatif langsung mengembara membayangkan kawasan internasional seluas 300 ha untuk menopang kota Hanoi. Saya meyakinkan Pemerintah Vietnam bahwa yang dibutuhkan Hanoi ialah pengembangan skala besar 300 hektaran, bukannya kumpulan perumahan dua hektar atau tiga hektar.
Saya menawarkan Pemerintah Vietnam sebuah visi kota internasional yang lengkap untuk kebutuhan para ekspatriat, yang letaknya di antara bandara dan pusat kota Hanoi, dan itulah yang menjadi salah satu kunci sukses untuk memperoleh proyek yang sangat strategis dan besar. Akhirnya melalui Grup Ciputra saya bekerja sama dengan sebuah BUMN di Vietna dan membentuk Citra Westlake City Dev Co. Ltd. Grup Ciputra memiliki saham sebesar 70 persen dan mitra kami sebesar 30 persen. Saat ini Ciputra Hanoi International City adalah salah satu perusahaan properti terbesar di Vietnam dan meraih keberhasilan sekaligus reputasi yang baik. Perusahaan ini menerima the Foreign Investment Award dari pemerintah Vietnam pada tahun 2005 atas kontribusinya secara langsung pada pembangunan investasi Vietnam.
Hal yang ingin saya tekankan dalam penciptaan peluang di Vietnam ialah imajinasi kreatif berdasarkan pola piker seorang entrepreneur. Pola piker atau mind set seorang entrepreneur membuat saya melihat, berpikir, dan terkesan oleh sesuatu dengan cara berbeda. Bukankah begitu banyak orang yang melewati kawasan Ciputra International City setiap harinya? Namun tampaknya visi untuk membangun sebuah kota internasional seluas lebih dari 300 Ha di kawasan tersebut belum ada yang memikirkan sebelumnya. Kalaupun ada, tampaknya tidak ada yang melakukan aksi yang tepat sehingga saya menjadi yang pertama mengembangkan gagasan itu.
Saya berkeyakinan bahwa banyak potensi dan peluang yang bisa diciptakan di sekeliling kita namun untuk itu kita harus melihat kehidupan dengan pola piker seorang entrepreneur, mengembangkan imajinasi kreatif untuk berinovasi dan berani melakukan aksi yang risiko-risikonya telah diperhitungkan sebelumnya.
Proyek CitraRaya Surabaya The Singapore of Surabaya
Contoh berikut yang saya ingin berbagi pengalaman ialah ihwal fenomena Proyek Perumahan CitraRaya di Surabaya yang sekarang dipromosikan sebagai The Singapore of Surabaya. Penulis Andrias Harefa dan Eben Ezer Siadari melukiskan proyek ini sebagai berikut: Di Surabaya barat terdapat 1.500 ha daerah kosong yang dikenal sebagai Lakar Santri. Daerah ini sulit dikembangkan untuk usaha agraris karena sangat kering. Untuk mengatasi kekeringan ini, digunakan teknologi terapan. Air sungai Brantas dipompa ke dalam empat buah kolam besar dengan masing-masing olahan kebersihan dan penggunaannya yang berbeda serta digunakan sebagai persediaan air baku untuk kawasan itu.
Ada dua tantangan besar ketika proyek CitraRaya hendak dimulai, yakni ketiadaan air dan ketiadaan jalan penguhubung. Dua hal ini membuat kawasan tersebut tidak dapat berkembang. Saya melihat masalah ini sebagai tantangan. Bila solusinya bisa saya peroleh, maka tempat kering kerontang ini, di mana hewan saja enggan hidup, dapat menjadi tempat hunian manusia yang beradab. Inilah cara saya menciptakan peluang di kota Surabaya, kota pertama di Pulau Jawa yang saya jejaki tanahnya ketika saya mendarat dari kapal laut dari Pulau Sulawesi.
Setelah saya menemukan bahwa peluangnya dapat diciptakan maka tantangan kreativitas berikutnya adalah produk inovatif seperti apa yang dapat saya ciptakan untuk masyarakat Surabaya? Akhirnya saya memutuskan untuk “meniru” secara kreatif konsep saya sebelumnya yang sukses di Pondok Indah. Bersama tim Grup Ciputra saya mengembangkan sebuah rencana induk yang memiliki kualitas master piece yang sekarang dinamakan The Singapore of Surabaya.
Dengan konsep ini bukan saja kami menawarkan solusi kepada masyarakat namun kami juga menciptakan ikon baru kota Surabaya. Inti pesannya, jangan pernah berhenti berinovasi. Dengan strategi demikian, proyek yang dikelola Grup Ciputra dapat menjadikan CitraRaya Surabaya menjadi The Singapore of Surabaya. Pengembangan diarahkan melalui tiga tahapan dalam tiga tahun: CLEAN (BERSIH), GREEN (HIJAU), dan MODERN. Lahan yang dulunya dijual dengan harga beberapa ribu per meter persegi saat ini telah melambung menjadi jutaan rupiah per meter persegi.
Ketiga contoh kisah nyata tersebut menunjukkan bahwa mengubah “ kotoran dan rongsokan menjadi emas” bukan hal mustahil, akan tetapi mesti diakui, bukan sebuah proses gampang. Akan tetapi, meski sukar namun bisa dipelajari. Ketika selesai dipelajari, langkah berikutnya adalah melakukannya di setiap saat yang mungkin. Seorang entrepreneur sejati sangat menjiwai pola pikir dan semangat entrepreneurship sehingga menjadi sebuah kebiasaan dan muncul begitu saja dalam perilaku sehari-hari tanpa pengaturan terlebih dulu. Inilah salah satu kunci pembelajaran entrepreneurship untuk para calon entrepreneur. Para peserta didik harus dimasukkan ke dalam suasana dan pengalaman nyata entrepreneurship yang menjadi lahan subur tumbuhnya kebiasaan dan kecakapan kaum entrepreneur, yaitu mencipta peluang, berinovasi, dan mengambil risiko terukur.
Siapakah Entrepreneur Itu?
Dr. Riant Nugroho
“Entrepreneurship is neither a science nor an art. It is a practice.” — Peter Drucker
Adalah Richard Cantillon, yang pada tahun 1755 mulai menggunakan istilah ini secara umum. Cantillon, ahli ekonomi Prancis asal Skotlandia, yang memopulerkan istilah entrepreneur dalam Essai Sur La Nature Du Commerce en General. Menurut dia, entrepreneur ialah mereka yang membayar harga tertentu untuk produk tertentu, untuk dijual dengan harga yang tidak pasti, sambil membuat keputusan-keputusan tentang upaya mencapai dan memanfaatkan sumber-sumber daya, dan menerima risiko berusaha.
Entrepreneur berasal dari bahasa Prancis yang berarti kontraktor. Asal katanya ialah entreprenant yang berartigiat, mau berusaha, berani, penuh petualangan, dan entreprendre yang artinya undertake. Istilah entrepreneur mulai dipergunakan dalam Bahasa Inggris sejak tahun 1878, dan dipahami sebagai a contractor acting as intermediary between capital and labour. Di Indonesia sendiri, entrepreneur diterjemahkan sebagai enterprenir, pengusaha, dan usahawan. Di lingkungan pemerintahan, digunakan istilah wirausaha.
Bagi Cantillon, entrepreneur adalah perantara, dalam bahasa praktik disebut pedagang. Cantillon bukan saja berteori, tetapi mempraktikkan teorinya. La menjadi seorang perantara kaya yang berinvestasi pada pelbagai bisnis di Eropa ketika itu. La ikut mengendalikan komoditas pertanian dalam berbagai lelang di Prancis. Barangkali keberadaannya dapat disamakan dengan Warren Buffet pada zaman sekarang.
Pemahaman awal tentang entrepreneur ini diikuti pendiri teori ekonomi klasik Adam Smith. Dalam An Inquiry into The Nature and The Wealth of the Nations,Smith memahami seorang entrepreneur sebagai individu yang menciptakan suatu organisasi untuk tujuan-tujuan komersial. Entrepreneur bereaksi terhadap perubahan-perubahan ekonomi, bahkan mereka menjadi agen dari perubahan ekonomi. Setelah mengamati sejumlah perkembangan, ekonom Austria CarlMenger mengatakan dalam Principles of Economics, perubahan ekonomi bukanlah timbul karena keadaan yang berlaku, tetapi dari salah seorang pengikut Smith, Jean-Baptise Say (1767-1832).
Say yakin entrepreneur sebagai penentu dari kesejahteraan dari suatu negara. La menyebutkan, entrepreneur adalah they who directs resources from less productive into more productive investments and who tehereby creates wealth. Pemikiran J.B. Say paralel dengan filsuf modern Joseph A. Schumpeter, dalam Capitalisme, Socialism, and Democracy, yang menyebutkan, the function of entrepreneurs is to reform or revolutionize the pattern of production by exploiting an invention or, more generally, an untried technological possibility for producing a new commodity or producing an old one in a new way, by opening up a new source of supply materials or a new outlet for products, by reorganizing an industry and so on.
Discussion
Comments are closed.